METEOR

Sebelum meteor jatuh ke bumi. Dia adalah bongkahan meteorit raksasa yang terapung di ruang hampa luaran bumi kita. Ketika mulai memasuki bumi dia akan hancur berkeping-keping , bergesekan dan berbenturan dengan atmosfer. Setelah itu jadilah dia bongkahan batu bernilai yang akan di pajang di museum-museum antariksa manusia.

Akan di tempat kan di tempatkan khusus, supaya orang-orang bisa melihat dan menelitinya,,,dengan segala ke khususan zat yang di kandungnya. Dia akan menjadi bahan penelitian, dia akan ..pendek kata dia di istimewakanlah…

Kadang saya bertanya, apanya sich yang istimewa? Bahkan kadang setara dengan emas dan intan berllian, yang dicari cari para collector.

Saya pikir jawabannya adalah . karena dia bukan batu biasa, dia batu luar angkasa . jawaban yang sederhana . namun cobalah telusuri proses dia mencapai bumi. Penuh makna dan tidak sederhana. Karena ada tahapan-tahapan yang di laluinya…’ hampa, hancur berkeping-keping lalu berharga.

Seperti halnya meteor.. nyatanya hidup kita tak ubah seperti batu itu. Berbagai masalah, perasaan hampa, sedih, marah, gundah adalah bagian dari rangkaian perjalanannya. Sebelum mencapai taqder kejayaan. Atau harus mati di ruang hampa dan atmosfer masalah hidupnya….

Oleh karenanya, proses lah yang menjadi ukuran. Bukan pencapaian hasil akhir.. layaknya meteor. Dia tak peduli sampai dan tidak sampai kebumi, baginya yang terpenting proses pencapain hingga mesti hancur lebur di dalam perjalannya. ..

Walaupun hanya sisa asteroid pembentuk planet .. namun tak pernah merasa minder dan grogi mengapung bersama Jupiter, mars, ataupun saturnus. Dia tetap batu mulia yang harus menjalani taqdernya sebagai ”pemberani”

Mengapa pemberani? Ya… dia tak pernah memikirkan ke benda langit mana dia nanti harus di hantamkan, ke planet mana dia mesti di hunjamkan.. yang penting baginya adalah jalani proses dan patuh pada titah allah swt…

Sabar dalam ketaaatan… itulah mungkin rahasianya. Sebagai bagian dari tentara allah. itu sudah menjadi ikon penyemangatnya …

Lalu kita? Ya kita. saya dan kita semua yang membaca tulisan ini. Sampai dimana kah kesabaran kita. Dimana tempatnya keberanian itu…sabar dalam ketaatan akan mendatangkan keberanian. inilah level pertama .setelah sabar dalam musibah.. dari dulu kita memang akrab dengan musibah… ketika kecil ari-ari kita di gunting, musibah. Ibunda tercinta menyapih setelah 1 atau dua tahun, musibah. Orang yg kita cintai meninggal juga musibah, dll… sampai sekarang.. rangkaian dari berbagai musibah inilah yang kita sebut dengan ”ujian”..ya ujian…kenapa? Karena kita beriman. Karena kita bukanlah para kuffar…

Yang percaya harus di uji… setelah teruji … tentulah patuh barulah taat … karena taat hanya milik orang2 beriman…. Sampai dimana taat kita? Inilah yang paling terberat dalam sejarah hidup kita . sering kita menyebutnya dengan istiqamah, orang sana bilang komitmen….walaupun antara istiqamah dan komitmen dua kata yang tak bisa disamakan, paling tidak beradik berkakak dalam daya tahannya….

Semakin berat masa zat yg dikandung meteor semakin dahsyat pula dentuman dan gesekan nya diatmosfer kita. Sehingga makin bercahaya kilaunya kelihatan oleh manusia dari bumi.

Presiden, perdana mentri, gubernur dan sederetan pejabat negeri lainnya. Kita menyebut mereka orang –orang BESAR. Kenapa? Karena mereka memiliki beban kerja & amanah besar dalam hidupnya. Bukan lantaran besar gaji dan tunjangannya. Juga bukan karena rumah dan kendaraannya, namun justru karena mereka memikul masalah-masalah besar dalam hidupnya …

Tapi tunggu dulu. Orang-orang inilah yang biasanya menjadi paradox dalam hidupnya sebagai orang besar, kalau nyatanya jabatan yg besar tak sepadan dengan kemampuan. Amanah yang mulia tak sebanding dengan perangai yang hina, mungkin korupsi kah atau terjerat dalam kubaang scandal harta dan wanita…dan akhirnya menghuni bui yang gelap segelap karir hidupnya.

Sekali lagi tunggu dulu. di balik tragisnya nasib para pembesar , masih ada manusia-manusia yang menjadi meteor di zamannya… hidup bersahaja tapi menyandang gelar berbagai disiplin keilmuan, gaya sederhana namun seorang pejabat berjasa bagi Negara… dia pahlawan bagi bangsanya . jangan kan korupsi, barang shubhat dan suappun tak mau mengambil walau satu rupiahpun. Mereka ada …. Tapi tak tahu dimana…. Karena mereka berjasa maka dia tak kasat mata. Karena jasa itu sendiri abstrak tak bisa di sentuh, hanya bisa di rasa…. Dia berkarya bukan sekedar retorika, dia bekerja, bukan banyak bicara….ya saya rasa mereka masih ada.. tapi tak seberapa ,,, ya itulah sang meteor,,,, layaknya meteor kan juga tak sebanyak pasir di lautan menimpa bumi kita… ya kan….!

Mereka yang sedikit tapi produktif, tak seberapa tapi signifikan dan menentukan…

Dia sungguh berharga, ketika sudah mencapai bumi. Karena sebelum itu tak ada sesiapa yang bisa mencapainya. Jauh di angkasa sana bersama para bintang menerangi cakrawala.Terhunjam ke tanah. Dan di balut dengan kafan keilmuan. Lalu bernilai, berharga. Itulah taqdernya.

Buya hamka pernah bilang, apa kata beliau ” panjangkan lah usiamu dengan menjadi sebutan bagi orang sepeniggalmu”

Wafatnya rasulullah S.A.W, 14 abad yang lalu tidak serta merta wafat pula jiwa beliau.. sukma nya mengembara di setiap dada manusia yang beriman dan mengaku cinta kepadanya, bahkan hingga hari kiamat kelak. Karena beliau tak sekedar meteor umat manusia .dia sang bintang dunia akhirat. Jangan coba-coba masuk syurga. melainkan karena beliau lah. Pintu jannah akan dibuka… sungguh istimewa.

Lalu kita!!! Siapa kita. Meteor itu kah? Nggak usah di jawab cukup di renungkan ya….

Abu bakar, umar bin khattab, usman bin affan, ali bin abi thalib, uamr bin abdul aziz, ibnu Mubarak, zubair bin awwam dll radhiallahu anhum ajmain… mereka adalah meteor-meteor manusia di jamannya. Mereka adalah manusia2 langit, dimana bidadari pun sampai cemburu kepada mereka…
Semoga kita bisa seperti mereka. Menjadi meteor-meteor akhir zaman
Karena kita adalah…
…..Kami adalah panah-panah terbujur Yang siap dilepaskan dari busur Tuju sasaran, siapapun pemanahnya
Kami adalah pedang-pedang terhunus Yang siap terayun menebas musuh Tiada peduli siapapun pemegangnya Asalkan ikhlas di hati tuk hanya ridho Illahi Robbi……
Kami adalah tombak-tombak berjajar Yang siap di lontarkan dan menghujam Menembus dada, lantakkan keangkuhan
Kami adalah butir-butir peluru Yang siap ditembakkan dan melaju Dan mengoyak, menumbang kezhaliman Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Illahi Rabbi……
Kami adalah mata pena yang tajam Yang siap menuliskan kebenaran Tanpa ragu ungkapkan keadilan
Kami pisau belati yang slalu tajam Bak kesabaran yang tak pernah padam Tuk arungi da’wh ini jalan panjang
Asalkan ikhlas di hati menuju jannah Illahi Robbi……..( izzatul islam)

Usai sudah sang meteor menulis. Lelah dia. Capek dan ngantuk… dia akan tidur untuk bangun kembali esok pagi. Untuk menyaksikan syariaat allah tegak di bumi pertiwi. Kalau tidak di zamannya mungkin juga dizaman anak dan cucunya….amiiin..segera insya allah…

One thought on “METEOR

Komentar ditutup.