Antara ‘butuh’ & ‘betah’

seorang teman lamu ku …. telah bercerita ……..yang jauh di negeri arabia bagian timur………

Subuh tadi kabut itu sudah mulai datang, aroma embun pagi sangat terasa pekat. pertanda musim dingin akan segera di mulai. disini biasanya awal musim dingin ditandai dengan munculnya kabut terlebih dahulu baru kemudian pelan namun pasti dingin yg menusuk tulang itu menyelinap kebalik pori-pori bahkan orang bilang sampai menusuk tulang, iya juga.

 

Namun sebenarnya aku lebih senang musim dingin di banding musim panas( dengan tidak mengurangi rasa syukurku pada allah atas nikmat dua musim ini), walaupun sering sakit akibat dinginya yang terlalu extrem bahkan bisa mencapai 0′ (derjat) atau munkin di district lain bisa minus.

Ketika ‘winte’r ini datang seolah tak percaya bahwa sebelumnya telah melalui musim panas. dan ketika musim panas bercucuran keringat (bisa mencapai diatas 45’) seolah-olah juga musim dingin mustahil mendekat.begitulah gambaran extremnya cuaca di sini.

Dan aku lebih ‘betah’ musim dingin. namun ku’ butuh’ musim panas.

Kalau kita bertanya kepada seluruh orang perantauan di negeri raja abdullah ini. apakah kalian betah hidup disini? maka hampir di pastikan 100%  kata TIDAK lebih banyak dari pada IYA. khususnya masalh iklim . hanya saja karena riyallah mereka ada disini.mereka butuh itu. karena riyal orang bisa royal. karena riyal untuk menjadi solih banyak yang gagal. karena riyal juga mereka banyak yang meninggal.

 

Seperti halnya kabut tadi.akan ada kabut-kabut lain yang akan mengisi menjelang pergantian etape demi etape jenak-jenak kehidupan. ada ketidak pastian dan buramnya pandangan menatap masa depan. disini keberanian lah yg di pertaruhkan. orang-orang berani itu dia tau bahwa di balik kabut ada kesejukan dan dinginnya udara. bagi orang-orang yang takut memang dia selalu ada dan akan tetap disini karena butuh riyal…apakah butuh berkah…terserah…

Mereka hanya bisa mngutuk kegelapan tapi tak pernah menyalakan lilin walau sebatang pun, mereka mengatakan system ini bobrok tapi tak ada nyali untuk merubah bahkan protes pun tak sanggup,maalh ‘camcha’ mungkin yang ada.

kalau lah bukan karena makkah dan madinah negeri ini  wallahu a’lam mungkin tak kena imbas dari berkah  Allah.

falsafah minang mengatakan. terhimpit hendak di atas terkurung hendak di luar. ‘mengindikasikan tak mau tunduk dengan keaadaan. tak harus lemah dengan keterbatasan…itulah keberanian.. dan saya… saya harus hijrah. keluar dari system ini.

Ada yang senang dengan dunia yang basah ini.tenggelam dalam  syhubhat dan haram, namun tak sedikit pun mau merapung dan naik kepermukaan menuju kapal kehormatan dan keberkahan ..

Silahkan yang ingin tetap disini dengan butuhnya kepada riyal, tapi aku ingin menjaga moral…..aku akan pergi bersama rabbku. disana ada dakwah ..disana ada rupiah…. dan insya allah berkah….

bersambung insya allah…….karena mau mandi..he he he

19 nov-2011.selepas subuh …ketika kabut menyelimuti kota khobar…….adian

This entry was posted on November 23, 2011. Bookmark the permalink.